Filsafat dan Ilmu


Kata Kunci:
Filsafat –> pengalaman –> pembuktian empiris –> filsafat ilmu –> ilmu

Ilmu kealaman berpedoman pada pengalaman filsuf. Filsuf menguji teori filsafatnya (hipotesis) dengan pengalaman mereka sendiri. Hasil uji atas teori filasafat mereka menentukan kenyataan obyektifnya. Hasil uji sangat ditentukan alam fikiran filsuf yang bersangkutan –yang penuh dengan idealisme. Hal inilah yang membedakan filsafat dan ilmu. Filsafat dilandasi oleh hal-hal bersifat metafisika atau sesuatu yang tidak wujud secara fisik bahkan dilandasi oleh sesuatu yang diluar benda nyata (beyond the real things). Sementara ilmu dilandasi oleh sesuatu yang wujud secara fisik (physically exist)

[1]. Ilmu digambarkan sebagai sesuatu yang maju teratur, penelitian atas objek, cara meneliti sama, dan merumuskan hasil-hasil dengan bahasa keilmuan umum. Sementara itu, filsafat digambarkan sebagai sesuatu yang tidak mempunyai kesatuan benda, bahasa, metode, maupun pendirian. Beragam filsafat akan menghasilkan kesimpulan berbeda, bahkan atas objek yang sama sekalipun. Supaya filsafat dapat berkembang menjadi ilmu, maka metode harus objektif dan sistematis.

Metode yang objektif dan sistematis menentukan perbedaan ilmu dan filsafat. Ilmu tidak boleh mempunyai ciri seperti filsafat yang sifatnya tergantung sumber asal dan cenderung mengandung unsur metafisika tinggi. Ciri-ciri ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah (atau disebut juga pengetahuan ilmiah) dengan demikian adalah :

(1) mempunyai derajat kepastian (certainty) yang tinggi, dimana pijakan berpikirnya dilandasi pengetahuan (knowledge) yang luas ;

(2) mempunyai alur berpikir yang sistematis dan sistemik ; dan

(3) memiliki kadar kebenaran luas dan disepakati bersama (intersubjek-tivitas), sehingga pengetahuan ilmiah mempunyai metode ilmiah yang sama. Ilmu tidak selamanya benar, karena masih adanya bias antara kebenaran yang sesungguhnya dengan yang sudah diketahui manusia. Bias-bias ini merupakan obyek yang perlu dicari jawabannya, sehingga kesenjangan dapat diminimalkan. Inilah yang disebut no zero tolerance

[2]. Dalam pengujian ilmu, dibedakan antara pengkajian dan penelitian ilmiah. Pengkajian lebih luas ketimbang penelitian ilmiah. Keduanya mempunyai obyek, akan tetapi obyek pengkajian bisa lebih luas ketimbang obyek penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah yang selalu terfokus pada satu obyek (obyektif), akan semakin meningkatkan derajat kepastian hasilnya. Dalam cabang ilmu-ilmu sosial, intersubyektivitas seharusnya lebih menonjol. Dalam ilmu kealaman, subyektivitas lebih menonjol. Berkaitan dengan hal pengujian akan kebenaran suatu ilmu, terdapat metode :

(1) ontologi, bermaksud memahami ilmu dari segi hakikat keberannya (eksistensi)

[3]; (2) epistemologi, bermaksud memahami knowledge about knowledge; dan

(3) aksiologi, bermaksud memahami aspek kegunaan dari suatu pengetahuan. Filsafat –meski rasional– bukanlah ilmu karena tidak ada pembuktian empiriknya. Namun ketika hasil pemikiran filsafati dapat dibuktikan kebenaran empiriknya, maka akan dapat dikatakan sebagai ilmu. Ilmu mempunyai jawaban yang positif (dapat dipercaya dan kritis) dan selalu mengandung kesalahan yang dapat ditoleransi. Filsafat yang tidak dapat dibuktikan kebenaran empirisnya tapi berguna untuk hal lain dapat berkembang menjadi seni dan agama.

Pengalaman Galileo dan Newton memahamkan pentingnya keseimbangan antara apa yang ditulis (dianggap benar) dengan metode ilmiah dengan praktek ilmiah aktualnya. Sehingga memunculkan pentingnya kajian lanjutan atas perkembangan ilmu dan filsafat. Kajian ilmiah memerhatikan latar belakang, hubungan obyek dengan metode, serta tujuan dan pendekatan. Sehingga sifat kekritisan ilmu dan komprehensifnya dapat selalu menjadi nilai intrinsik dari ilmu. Untuk itulah dirumuskan 4 titik pandang pemahaman filsafat ilmu yaitu :

(1) perumusan world view,

(2) pemaparan dugaan dan kecenderungan;

(3) disiplin konsep dan teori ilmu dianalisis;

(4) patokan tingkat kedua (second order disciplin)

[4]. Filsafat ilmu merupakan secondary reflection, dalam konsep ini disebutkan pada level 0 subyek materi adalah fakta (tidak ada disiplinnya), pada level 1 subyek materi adalah explanations of facts (domain disiplin science), dan pada level 2 subyek materi adalah analisis atas prosedur dan logika dari explanations of facts (domain disiplin philosophic of science). Terdapat 4 pertanyaan untuk menguji keilmiahan ilmu :

(1) karakter apa yang membedakan penelitian ilmiah dari tipe yang lain;

(2) prosedur yang bagaimana patut dituruti ilmuwan dalam meneliti alam;

(3) kondisi bagaimana harus dicapai bagi penjelasan ilmiah secara benar; dan

(4) status kognitif bagaimana dari prinsip dan hukum ilmiah. Hal ini perlu dilakukan agar memenuhi tujuan sebagai berikut: ilmu yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan, dapat disepakati bersama, dapat diuji kembali, dan bermanfaat.
[1] Misalnya penyelidikan akan elemen zat paling kecil menyimpulkan adanya atom. Ketika pengetahuan tentang atom lebih didalami dengan pendekatan baru atau teknik baru ternyata di dalam atom masih terdapat elemen yang lebih kecil lagi yaitu neutron, proton, dan electron.
[2] Meski demikian, karena keterbatasan manusia itu sendiri, tidak ada ilmu yang 100% sempurna. Oleh karena itu, untuk beberapa ilmu, diberikan batas toleransi tertentu yang disepakati. Dalam statistik hal ini disebut derajat signifikansi (alfa) atau error of measurenment. Terdapat ilmu yang kesenjangannya sangat lebar, misalnya sejarah. Beberapa ahli mengatakan sejarah bukan ilmu, dengan alasan waktu, ruang, dan obyek yang dikaji bisa berbeda antara beberapa sejarawan.
[3] Ilmuwan pentingnya antara lain Heidegger dan Sartre. Sartre bahkan mengatakan bahwa setiap gerak mansia dipakai sebagai alat untuk mencapai kemauannya (Ich und Es).
[4] Filsafat ilmu disebut sebagai second order disciplin, karena telah melewati penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah inilah yang menjadikan filsafat ilmu mempunyai ciri pengetahuan ilmiah dan positif. Metode penelitian ilmiah dimulai dari adanya ilmu, masalah, obyek ilmiah, metode ilmiah.

Tentang iklan-iklan ini

11 Tanggapan to “Filsafat dan Ilmu”

  1. didiharyanto Says:

    ilmu bagaikan cahaya yang akan slalu menerangi,maka bebahagialah mereka yang selalu mencari pelita dalam hidupnya. thanks…teman… karyamu smoga bermanfaat dan menjadikan amal bagimu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: